Saatnya Rawat, Jaga, Benahi dan Besarkan NU

oleh -1242 Dilihat
Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi, Keanggotaan, dan Tata Laksana Organisasi HPN, H. Abdul Mu’in, M.Pd. (Kanan) saat menyerahkan SK ke Ketua HPN Kalimantan Tengah, AM Taufik Hidayat
banner 468x60

Oleh: H. Andi Muhamad Taufiq Hidayat
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Himpunan Pengusaha Nahdliyin Kalimantan Tengah (DPW HPN Kalimantan Tengah)

Jangan terlalu cepat merayakan pergantian kepemimpinan. Sebab, mengganti pemimpin jauh lebih mudah daripada mengubah kebiasaan.

banner 700x875

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama telah selesai. Kepemimpinan baru telah lahir. Harapan baru pun kembali disampaikan dari berbagai penjuru. Namun, setelah tepuk tangan mereda, spanduk diturunkan, dan para peserta Muktamar kembali ke daerah masing-masing, ada satu pertanyaan yang semestinya tidak boleh kita hindari:

Apakah yang berubah hanya siapa yang duduk di kursi pimpinan, atau cara NU menjalankan dirinya juga akan berubah?

Pertanyaan ini penting. Sebab, persoalan NU tidak akan selesai hanya dengan mengganti orang.

Jika budaya lama tetap dipelihara, politik faksi masih menjadi kebiasaan, jabatan masih dipandang sebagai wilayah kekuasaan, kritik masih dianggap sebagai pembangkangan, dan kader hanya dihargai karena kedekatannya dengan elite, maka pergantian kepemimpinan hanya akan menjadi pergantian wajah.

NU membutuhkan lebih dari sekadar wajah baru. NU membutuhkan keberanian untuk membenahi dirinya.

Saya Mengkritik karena Mencintai NU

Saya menulis ini bukan karena merasa paling tahu tentang NU. Saya juga tidak merasa lebih NU daripada orang lain. Saya hanya seorang warga NU yang memiliki harapan.

Bagi saya, NU bukan sekadar organisasi dengan AD/ART, struktur kepengurusan, rapat, konferensi, dan Muktamar.

NU adalah rumah.

Rumah yang dibangun dengan keringat para ulama. Rumah yang dirawat pesantren. Rumah yang dihidupi para guru, santri, jamaah, petani, pedagang, pekerja, dan masyarakat kecil.

Karena itu, ketika rumah kita mulai membutuhkan perbaikan, apakah kita harus diam hanya karena takut dianggap tidak mencintai rumah tersebut?

Saya kira tidak.

Justru orang yang mencintai rumahnya akan berani mengatakan jika atapnya bocor.

Kritik terhadap NU bukan berarti anti-NU. Perbedaan pendapat bukan berarti keluar dari barisan. Mengingatkan pengurus bukan berarti merendahkan ulama.

Selama dilakukan dengan ilmu, adab, dan niat memperbaiki, kritik adalah bagian dari cara menjaga organisasi tetap sehat.

Jangan Bangun NU Berdasarkan Loyalitas Kelompok

Salah satu pekerjaan rumah terbesar NU adalah mengakhiri politik “orang kita” dan “bukan orang kita”.

Kita harus jujur mengakui bahwa dalam setiap kontestasi organisasi selalu ada kecenderungan membentuk lingkaran. Yang satu merasa paling dekat dengan pusat. Yang lain merasa paling berjasa. Mereka yang berbeda pilihan perlahan dijauhkan.

Jika kebiasaan semacam ini terus dipelihara, NU akan kehilangan salah satu kekuatan terbesarnya: jamaah yang luas dan keberagaman kadernya.

NU terlalu besar untuk dimiliki oleh kelompok tertentu.

Karena itu, setelah Muktamar ke-35, jangan lagi sibuk menghitung siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Kontestasi boleh selesai. Persaudaraan harus dimulai kembali.

Ketua Umum yang baru harus menjadi pemimpin bagi seluruh NU.

Gus Kikin tidak membutuhkan “NU milik Gus Kikin”. Yang dibutuhkan adalah NU yang mampu membuat seluruh warganya merasa memiliki.

Kader yang dulu berbeda pilihan tidak otomatis menjadi musuh. Orang yang mengkritik tidak otomatis menjadi pengganggu. Dan orang yang tidak berada dalam lingkaran kekuasaan bukan berarti tidak memiliki kapasitas.

NU harus belajar membedakan antara loyalitas kepada pribadi dan loyalitas kepada organisasi.

Yang pertama dapat melahirkan faksi. Yang kedua melahirkan khidmah.

Jabatan NU Jangan Menjadi Mata Pencaharian Kekuasaan

Ini mungkin bagian yang paling sensitif untuk dibicarakan. Tetapi justru karena sensitif, ia perlu dibicarakan.

Jabatan di NU adalah amanah.

Bukan hadiah. Bukan investasi. Bukan warisan. Bukan pula kompensasi atas jasa seseorang kepada kelompok tertentu.

Jika jabatan mulai diperlakukan sebagai sumber pengaruh, akses, dan keuntungan, perlahan-lahan ruh khidmah akan tergeser oleh logika kekuasaan.

Kita tentu tidak ingin itu terjadi.

NU harus menjadi tempat orang bertanya:

“Apa yang bisa saya berikan?”

Bukan:

“Apa yang bisa saya dapatkan?”

Ini bukan semata-mata soal siapa yang salah. Ini tentang sistem seperti apa yang ingin kita bangun.

Karena itu, kepemimpinan baru harus berani membangun mekanisme organisasi yang transparan, profesional, terukur, sekaligus memberikan ruang yang adil berdasarkan kompetensi dan rekam jejak pengabdian.

Rais Aam Harus Menjadi Rem Ketika Organisasi Terlalu Cepat Melaju

Dalam organisasi sebesar NU, tidak semua keputusan boleh diukur dengan logika kecepatan dan kekuasaan.

Ada nilai yang harus dijaga. Ada batas yang tidak boleh dilampaui. Ada tradisi yang tidak boleh ditinggalkan.

Di sinilah peran Rais Aam menjadi penting.

KH Miftachul Akhyar tidak hanya dibutuhkan sebagai simbol tertinggi kepemimpinan keulamaan. NU membutuhkan beliau sebagai penjaga keseimbangan moral organisasi.

Ketika organisasi terlalu dekat dengan kekuasaan, harus ada suara yang mengingatkan. Ketika konflik internal memanas, harus ada tangan yang mendinginkan. Ketika modernisasi bergerak terlalu jauh, harus ada yang mengingatkan akar. Dan ketika organisasi terlalu nyaman dengan tradisi, harus ada keberanian untuk mengatakan bahwa tidak semua kebiasaan lama harus dipertahankan.

NU membutuhkan rem dan gas sekaligus.

Ketua Umum menggerakkan organisasi. Rais Aam menjaga agar gerak itu tidak kehilangan arah.

Dekat dengan Pemerintah, tetapi Tidak Kehilangan Jarak

Kedekatan NU dengan pemerintah bukan sesuatu yang harus ditakuti. Kerja sama dengan pemerintah bahkan dapat memberikan manfaat besar bagi umat.

Namun, ada perbedaan mendasar antara bekerja sama dengan kekuasaan dan menjadi bagian dari kekuasaan.

NU harus mampu berdiri di tengah.

Ketika pemerintah benar, NU dapat mendukung. Ketika kebijakan pemerintah bermanfaat, NU dapat mengawal. Tetapi ketika ada kebijakan yang merugikan rakyat, NU juga harus memiliki keberanian moral untuk menyampaikan kritik.

NU harus dekat dengan pemerintah, tetapi lebih dekat dengan umat.

Jika suatu hari NU kehilangan keberanian untuk mengatakan “tidak” hanya karena terlalu dekat dengan kekuasaan, yang hilang bukan sekadar independensi organisasi.

Yang hilang adalah kepercayaan jamaah.

Jangan Jadikan Anak Muda sebagai Dekorasi

Kita sering mengatakan bahwa anak muda adalah masa depan NU.

Tetapi masa depan tidak akan pernah datang jika generasi muda hanya ditempatkan sebagai penonton.

Anak muda tidak cukup diberi tugas menjadi panitia. Tidak cukup diminta membuat konten. Tidak cukup dipanggil ketika organisasi membutuhkan massa.

Mereka harus diberi kesempatan memimpin, diberi ruang mengambil keputusan, diberi kesempatan gagal, dan diberi kepercayaan untuk memperbaiki kesalahan.

Generasi muda NU sedang menghadapi dunia yang sangat berbeda: teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan lapangan pekerjaan, ekonomi baru, dan kompetisi global.

Jika NU tidak masuk ke ruang-ruang tersebut, jangan salahkan jika suatu hari anak muda merasa NU tidak lagi berbicara dengan bahasa kehidupan mereka.

NU harus masuk ke masa depan tanpa meninggalkan pesantren.

Ukur NU dari Ranting, Bukan Hanya dari Pusat

Saya ingin melihat suatu hari ukuran keberhasilan NU berubah.

Bukan hanya berapa banyak kegiatan PBNU. Bukan hanya berapa banyak tokoh NU bertemu pejabat. Bukan pula hanya seberapa besar acara yang diselenggarakan.

Ukuran keberhasilan NU semestinya juga dilihat dari pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan jamaah:

Apakah ranting hidup?

Apakah MWCNU kuat?

Apakah pesantren berkembang?

Apakah madrasah semakin berkualitas?

Apakah guru lebih sejahtera?

Apakah santri memiliki masa depan?

Apakah anak muda mendapatkan pekerjaan?

Apakah ekonomi jamaah meningkat?

Apakah warga NU yang kecil merasa dilindungi?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab, maka kita masih memiliki pekerjaan rumah yang sangat besar.

NU tidak boleh hanya besar di Jakarta. NU harus terasa sampai ke pelosok.

Sebab, kekuatan NU sebenarnya bukan berada di gedung-gedungnya. Kekuatan NU berada di jamaahnya.

Berubah Tanpa Kehilangan Jati Diri

Saya tidak ingin NU menjadi organisasi yang hanya mengejar profesionalisme. Tetapi saya juga tidak ingin NU terjebak dalam romantisme masa lalu.

Saya ingin NU menjadi organisasi yang modern tanpa tercerabut dari tradisi; profesional tanpa kehilangan ruh pesantren; terbuka tanpa kehilangan prinsip; dan dekat dengan kekuasaan tanpa menjadi alat kekuasaan.

Itulah tantangannya.

Perubahan bukan berarti membuang tradisi. Perubahan berarti menemukan cara baru agar nilai-nilai lama yang baik tetap mampu menjawab persoalan baru.

Kaidah yang sering kita dengar harus benar-benar dihidupkan: menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.

Karena itu, NU tidak boleh menjadi museum. Tetapi NU juga tidak boleh kehilangan akar.

Pada Akhirnya, NU Bukan Milik Siapa-Siapa

Kita perlu mengingat satu hal yang sangat sederhana.

NU bukan milik Ketua Umum.

NU bukan milik Rais Aam.

NU bukan milik PBNU.

NU bukan milik kelompok yang menang dalam Muktamar.

NU bahkan bukan milik satu generasi.

NU adalah amanah para muassis.

Ia adalah rumah para ulama. Ia adalah rumah pesantren. Ia adalah rumah jutaan jamaah.

Dan karena ia adalah rumah bersama, tidak boleh ada satu kelompok pun yang merasa berhak memperlakukannya sebagai milik pribadi.

Kepemimpinan boleh berganti. Generasi boleh berganti. Zaman boleh berubah.

Tetapi amanah harus tetap dijaga.

Maka kepada kepemimpinan baru, pesan saya sederhana:

Jangan hanya membesarkan struktur. Besarkan manfaat.

Jangan hanya membangun citra. Bangun kepercayaan.

Jangan hanya merawat kekuasaan. Rawat jamaah.

Dan jangan takut pada kritik yang lahir dari kecintaan.

Sebab NU yang sehat bukan NU yang tidak pernah dikritik.

NU yang sehat adalah NU yang mampu mendengar kritik, memilahnya, dan berani memperbaiki diri.

Mungkin inilah saatnya kita berhenti bertanya siapa yang menang dalam Muktamar.

Mari mulai bertanya:

Apa yang akan kita lakukan untuk NU setelah Muktamar?

Jawabannya tidak perlu rumit.

Mari kita mulai dari empat hal:

Rawat NU.
Jaga NU.
Benahi NU.
Besarkan NU.

Rawat tradisinya.

Jaga persaudaraannya.

Benahi tata kelolanya.

Besarkan manfaatnya.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya seberapa lama kita memegang jabatan di NU.

Sejarah akan bertanya:

Apa yang kita tinggalkan untuk NU setelah kita selesai berkhidmah?

Dan semoga jawaban kita kelak bukan tentang jabatan yang pernah kita duduki, tetapi tentang umat yang pernah kita layani.

NU harus berubah. Tetapi jangan kehilangan jati diri.

NU harus maju. Tetapi jangan meninggalkan akar.

NU harus besar. Tetapi jangan kehilangan rakyatnya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.