Tak Suka Pamer, Owner Produk Kecantikan ini Ternyata Punya Kekayaan Rp24 Triliun

oleh -488 Dilihat
Nurhayati Subakat
banner 468x60

INDOPOL MEDIA – Akhir-akhir ini media sosial ramai oleh psotingan pemilik atau owner produk kecantikan yang sering pamer kekayaan atau harta di media sosial.

Namun berbanding terbalik oleh Nurhayati Subakat, seorang pengusaha perempuan asal Padang Panjang, Sumatera Barat, yang dikenal sebagai pendiri Paragon Technology and Innovation (PTI).

banner 700x875

Ia merupakan pelopor kosmetik halal di Indonesia melalui merek Wardah yang kini menjadi salah satu brand kecantikan lokal paling terkemuka.

Dikutip dari KBA.one, Nurhayati lahir pada 27 Juli 1950. Dia memulai perjalanan hidupnya dari keluarga sederhana hingga berhasil membangun kerajaan bisnis di bidang kecantikan

Perjalanan Nurhayati tidaklah mudah, mulai dari kariernya sebagai apoteker hingga memutuskan menjadi pengusaha.

Melalui kerja keras dan inovasi, ia berhasil mengembangkan usahanya dari skala rumahan hingga menjadi perusahaan besar dengan lebih dari 14.000 karyawan.

Filosofi bisnisnya yang berfokus pada kebermanfaatan dan kualitas telah membawa Paragon Corp menjadi pemimpin pasar kosmetik di Indonesia.

Sebagai perempuan Minang yang menjunjung tinggi nilai agama dan budaya, Nurhayati selalu mengutamakan prinsip halal dalam setiap produknya.

Dengan visi dan dedikasinya, ia telah memberikan dampak besar bagi industri kecantikan lokal sekaligus menginspirasi banyak perempuan Indonesia untuk berkarya dan mandiri.

Nurhayati Subakat menempuh pendidikan menengahnya di Pondok Pesantren Diniyyah Puteri, Padang Panjang, sebelum melanjutkan sekolah di Kota Padang.

Kecerdasannya membawa ia diterima di jurusan Farmasi, Institut Teknologi Bandung (ITB). Di kampus inilah ia bertemu dengan Subakat Hadi, pria asal Kebumen yang kemudian menjadi suaminya pada tahun 1978.

Setelah menyelesaikan pendidikan farmasi, Nurhayati bekerja sebagai apoteker di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M. Djamil, Padang. Kehidupannya berubah saat ia pindah ke Jakarta mengikuti sang suami.

Setelah sempat bekerja di perusahaan kosmetik Wella sebagai staf pengendalian mutu, Nurhayati memutuskan berhenti bekerja untuk fokus mengurus keluarga.

Namun, keinginannya untuk berwirausaha mulai tumbuh karena ia ingin mengaplikasikan ilmu farmasinya.

Pada tahun 1985, Nurhayati bersama suaminya memulai bisnis rumahan dengan memproduksi sampo khusus untuk salon dengan merek Putri.

Bermodal omzet Rp2 juta per bulan, mereka menjual produk dari satu salon ke salon lain di Tangerang. Dalam lima tahun, bisnisnya berkembang hingga mempekerjakan 25 orang karyawan.

Kesadaran akan kebutuhan produk halal di pasar kosmetik mendorong Nurhayati meluncurkan merek Wardah pada 1995. Butuh waktu bertahun-tahun hingga Wardah dikenal luas, terutama setelah booming tren hijabers pada tahun 2009.

Pada 2011, PT Pusaka Tradisi Ibu berubah menjadi PT Paragon Technology and Innovation untuk mengakomodasi perkembangan bisnisnya.

Hingga kini, Paragon Corp menaungi 14 merek, termasuk Make Over, Emina, Kahf, dan Laboré, serta memiliki 43 pusat distribusi di Indonesia dan Malaysia.

Wardah sendiri menyumbang 70% pendapatan perusahaan, menjadikannya salah satu produk kosmetik lokal paling sukses.

Nurhayati Subakat, tercatat memiliki kekayaan Rp24 T dan rutin menyumbang Rp52 M untuk riset ITB. Tak hanya dermawan, beliau juga memberangkatkan umroh karyawannya yang telah lama bekerja. (int)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.