RIMBA RAHAYU, Inovasi UPR yang Mengajak Remaja Bicara Terbuka soal Kesehatan Reproduksi

oleh -255 Dilihat
banner 468x60

PALANGKA RAYA — Bagaimana jika remaja tidak hanya menjadi pengguna aplikasi edukasi, tetapi ikut menentukan isi dan tampilannya? Konsep itulah yang diterapkan tim peneliti Universitas Palangka Raya (UPR) dalam mengembangkan RIMBA RAHAYU, platform edukasi kesehatan reproduksi remaja berbasis living labs.

Platform tersebut dikembangkan oleh tim BESTARI Saintek UPR dengan dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

banner 700x875

Berbeda dari pengembangan media edukasi yang hanya mengandalkan perspektif pengembang, RIMBA RAHAYU justru melibatkan remaja dan sekolah sejak tahap awal. Pendekatan living labs digunakan untuk menggali persoalan, kebutuhan hingga preferensi remaja agar platform yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kondisi penggunanya.

Salah satu proses tersebut dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) di Aula Fakultas Kedokteran UPR, Jumat (31/7/2026).

Sebanyak 50 siswa kelas VII dan VIII dari lima sekolah di Palangka Raya ikut terlibat. Mereka berasal dari SMPN 1, SMPN 6, SMPN 8, SMPN 9 dan SMPN 14, terdiri atas siswa putra dan putri.

Dalam FGD tersebut, para siswa tidak hanya diminta menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Mereka juga dilibatkan dalam merancang pengalaman pengguna (user experience) platform.

Sejumlah metode digunakan, mulai dari brainstorming, card sorting, dot voting, storyboard design hingga mood board.

Hasil diskusi menunjukkan kebutuhan informasi yang cukup beragam antara siswa putra dan putri.

Siswa putra banyak menyoroti persoalan kebersihan organ reproduksi, penyakit dan infeksi, makanan bergizi hingga kekerasan seksual. Sementara siswa putri lebih banyak membahas menstruasi, nyeri haid dan PMS, kebersihan organ reproduksi serta kesehatan mental.

Menariknya, proses dot voting menunjukkan adanya prioritas berbeda di antara kedua kelompok.

Pada kelompok putri, kebersihan organ reproduksi menjadi materi yang paling banyak dipilih dengan 19 suara. Berikutnya, nyeri haid dan PMS memperoleh 12 suara, sedangkan materi mengenai organ reproduksi mendapat 10 suara.

Sementara pada kelompok putra, kekerasan seksual menjadi materi dengan pilihan terbanyak, yakni 15 suara. Temuan tersebut kemudian menjadi bahan bagi tim peneliti untuk menentukan materi yang dinilai paling relevan bagi pengguna platform.

Tak hanya menentukan materi, para siswa juga ikut memberikan gambaran mengenai fitur yang mereka inginkan. Mereka menginginkan media pembelajaran yang tidak monoton, antara lain melalui video animasi, game edukasi, kuis, fitur mitos dan fakta, buku digital serta konsultasi berbasis AI.

Dari sisi tampilan, siswa menginginkan RIMBA RAHAYU memiliki desain yang sederhana tetapi menarik, mudah digunakan dan menggunakan bahasa yang santai serta mudah dipahami. Ilustrasi kartun remaja juga dinilai dapat membuat platform terasa lebih dekat dengan karakter penggunanya.

Berbagai masukan tersebut selanjutnya menjadi dasar bagi tim peneliti dalam menyusun kebutuhan pengguna sekaligus menentukan konten, fitur dan desain website RIMBA RAHAYU.

Keterlibatan siswa sejak tahap awal diharapkan membuat RIMBA RAHAYU tidak sekadar menjadi sumber informasi, tetapi juga menjadi media edukasi yang relevan dan menarik bagi remaja.

Melalui Program BESTARI Saintek, pengembangan platform ini diarahkan untuk mendukung peningkatan literasi kesehatan reproduksi remaja, sekaligus menghadirkan alternatif media edukasi digital yang dapat dimanfaatkan di lingkungan sekolah di Kota Palangka Raya.

Tim peneliti RIMBA RAHAYU terdiri atas Uswatun Hasanah Purnama Sari, M.Kes., Abi Bakring Balyas, S.Pd., M.Kes., Farah Fauziyah R A, S.Ked., M.Biomed., Nawung Asmoro Girindraswari, M.Pd., Muh. Andis Hidayatullah, M.Pd., Nisa Kartika Komara, S.Si., M.Biomed., dan Nurfitrini Ramadhani, M.Pd.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.