Pejuang Agraria Erpan Faryadi Wafat di Bandung, Aktivis Reforma Agraria Kehilangan Sosok Penggerak

oleh -1436 Dilihat
banner 468x60

BANDUNG — Kabar duka menyelimuti dunia perjuangan agraria dan gerakan rakyat di Indonesia. Aktivis reforma agraria nasional, Erpan Faryadi, wafat pada Minggu (22/2/2026) pukul 09.12 WIB setelah menjalani perawatan selama tiga hari di RS Hasan Sadikin, Bandung. Almarhum tutup usia pada umur 62 tahun.

Erpan Faryadi lahir di Bangka pada 7 Februari 1964. Sejak muda, ia telah terlibat aktif dalam gerakan advokasi rakyat. Perjalanan aktivismenya dimulai sejak masa sekolah menengah, kemudian berlanjut saat menempuh pendidikan tinggi. Semasa mahasiswa di Universitas Padjadjaran, Erpan aktif melakukan pendampingan kasus-kasus rakyat di berbagai daerah di Jawa Barat, seperti Cibereum, Agrabintang, Demak Luhur, Badega, serta sejumlah wilayah lain, jauh sebelum reformasi 1998 bergulir.

banner 700x875

Dalam perjalanan hidupnya, Erpan dikenal sebagai intelektual, aktivis, sekaligus penggerak reforma agraria di Indonesia. Dedikasinya dalam memperjuangkan hak-hak kaum tani dilakukan dari tingkat desa hingga nasional. Ia tercatat sebagai salah satu pendiri Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) dan pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal KPA periode 2002–2005.

Selain itu, Erpan juga merupakan anggota pendiri Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) dan dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal pertama AGRA pada 2004. Di tingkat internasional, almarhum pernah menjabat sebagai Koordinator Regional Asia International Land Coalition (ILC) pada 2014–2016. Pasca pandemi COVID-19, Erpan kembali aktif di basis-basis pedesaan dengan memimpin Sekretariat Nasional AGRA serta terlibat dalam jaringan gerakan tani internasional, termasuk Asian Peasant Coalition (APC) dan International League of Peoples’ Struggle (ILPS).

Selain kerja-kerja advokasi dan pengorganisasian rakyat, Erpan Faryadi juga dikenal produktif menulis tentang isu-isu agraria. Sejumlah karyanya kerap menjadi rujukan bagi kalangan akademisi maupun aktivis, di antaranya Pokok-Pokok Pikiran Agraria, Studi Landreform, Modul Kedaulatan Pangan, serta terlibat sebagai editor dalam buku Reforma Agraria: Perubahan Politik, Sengketa dan Agenda Pembaruan Agraria di Indonesia.

Kepergian Erpan meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekan seperjuangan, komunitas tani, serta berbagai organisasi gerakan rakyat. Meski demikian, nilai-nilai perjuangan, kesederhanaan, serta dedikasi almarhum dalam membela kaum tani diharapkan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus.

“Perjuangan pembebasan kaum tani adalah syarat pembebasan bangsa,” merupakan pesan yang kerap disampaikan almarhum dalam berbagai forum diskusi dan pernyataan gerakan. Warisan pemikiran dan praktik perjuangannya kini menjadi tanggung jawab bersama untuk dilanjutkan. (din)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.