INDOPOL MEDIA, JAKARTA – Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat menggelar Simposium Nasional bertema “Menyongsong Indonesia Emas 2045: Media Baru dan Platform Global Sebuah Keniscayaan” di Sekretariat SMSI Pusat, Sabtu (15/11/2025). Kegiatan ini sekaligus menjadi rangkaian pembukaan resmi Press Club Indonesia.
Diskusi menghadirkan dua narasumber nasional yang memaparkan kondisi terkini industri media—mulai dari dominasi platform digital, tantangan ekonomi, hingga ancaman kualitas informasi akibat penggunaan kecerdasan buatan (AI).
Koordinator Bidang Organisasi dan Tata Kelola Publisher Rights Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Jurnalisme Berkualitas (KTP2JB), Alexander Suban, menegaskan bahwa media kini tidak lagi berdaulat penuh atas distribusi informasinya.
“Perkembangan media saat ini menunjukkan bahwa distribusi berita banyak ditentukan platform digital. Karena itu, kerja sama antara media dan platform menjadi sangat penting,” ujarnya.
Menurut Alexander, peran komite yang ia wakili adalah memfasilitasi kerja sama antara media dan platform digital, termasuk monetisasi, pelatihan, dan penguatan model bisnis. “Kami menyediakan fasilitasi agar perusahaan media bisa memanfaatkan fitur monetisasi, menjalin kemitraan, dan meningkatkan kapasitas,” jelasnya.
Ia juga menyinggung karakter budaya komunikasi Indonesia yang membuat negosiasi dengan platform global kerap membutuhkan keterlibatan banyak pihak. “Kami mendorong regulasi yang lebih kuat agar media punya posisi tawar yang lebih baik,” katanya.
Narasumber kedua, Anggota Dewan Pengawas LPP TVRI, Agus Sudibyo, memaparkan kondisi faktual industri media hari ini yang disebutnya berada dalam situasi tidak stabil.
“Jika membayangkan Indonesia Emas 2045, dua puluh tahun ke depan tidak akan mudah. Tantangan dua sampai tiga tahun ke depan saja semakin kompleks dan sulit diperkirakan,” ujarnya.
Agus mengkritisi ketidakseimbangan antara jumlah perusahaan pers dan kapasitas ekonomi yang tersedia. “Setiap tahun ratusan media berdiri, sementara kemampuan ekonomi tidak bertambah. Ini ketidakseimbangan serius,” tegasnya.
Agus juga menaruh perhatian pada gelombang penggunaan kecerdasan buatan (AI) di ruang redaksi. “AI seperti ChatGPT akan semakin cerdas jika datanya benar. Tetapi kalau kualitas datanya buruk, AI justru bisa meracuni. Semakin tidak cerdas datanya, semakin bodoh hasilnya,” katanya.
Ia menyebut ancaman baru: banjir konten rendah kualitas jika mayoritas media memakai AI tanpa kontrol. “Bayangkan kalau dari 1.000 media, 900 menggunakan AI. Kontennya bisa banyak, tapi kualitasnya belum tentu meningkat,” ujarnya.
Agus juga menggarisbawahi masalah model bisnis media yang semakin terjepit. “Biaya produksi tinggi, persaingan iklan ketat. Pertanyaannya, jualannya di mana? Iklannya di mana? Dua tahun ke depan media massa Indonesia akan seperti apa?” pungkasnya.
Simposium Nasional SMSI ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif bersama peserta. Melalui gelaran ini, SMSI menegaskan komitmennya untuk merumuskan masa depan media siber Indonesia yang lebih adaptif, berdaya saing, dan relevan menghadapi tantangan global. (*)







