Menjaga Api Batik Oey Soe Tjoen: Antara Kualitas, Waktu, dan Masa Depan

oleh -2 Dilihat
banner 468x60

Diskusi dan bedah buku “Oey Soe Tjoen: Sejarah Batik Tulis Legendaris Kabupaten Pekalongan” yang digelar Kulturpedia di Saji Space menjadi ruang refleksi atas perjalanan hampir satu abad batik tulis Oey Soe Tjoen—sebuah nama yang lekat dengan kualitas dan ketelitian.

Sejak 1925, batik ini bertahan bukan karena mengikuti arus, melainkan karena memilih untuk tetap setia pada standar yang tinggi.

banner 700x875

“Batik Oey Soe Tjoen menunjukkan bahwa tradisi bisa bertahan jika kualitas tetap dijaga,” kata penulis buku, Nanang Rendi Ahmad, dalam diskusi tersebut.

Namun, menjaga kualitas bukan perkara sederhana. Ia menuntut waktu, ketelatenan, dan komitmen yang tidak bisa dinegosiasikan.

Bagi Widianti Widjaya, perwakilan keluarga, kualitas bukan sekadar prinsip—melainkan batas yang tidak boleh dilanggar.

“Kalau kualitasnya tidak bisa dijaga, lebih baik tidak dilanjutkan,” ujarnya tegas.

Pernyataan itu mungkin terdengar ekstrem di tengah dunia yang serba cepat. Namun di situlah letak makna batik tulis: ia tidak dibuat untuk terburu-buru.

Setiap garis, setiap titik malam, adalah hasil dari proses panjang yang tidak bisa dipadatkan oleh tuntutan pasar.

Di sisi lain, nilai batik ini pun mencerminkan proses tersebut. Pegiat sejarah Pekalongan, Dirhamzah, menggambarkan bagaimana satu lembar batik Oey Soe Tjoen dapat memiliki nilai ekonomi tinggi—bahkan disetarakan dengan satu unit sepeda motor.

Namun, nilai itu sesungguhnya tidak hanya terletak pada harga, melainkan pada cerita, keterampilan, dan waktu yang melekat di dalamnya. (din)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.