INDOPOL MEDIA, JAKARTA – Langkah Dina Fahdiani sedikit bergetar saat namanya dipanggil di Puncak Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) 2025 di Jakarta, Kamis (27/11/2025). Kepala SMAN 1 Katingan Hulu itu datang dari sekolah yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Namun malam itu, ia berdiri sejajar dengan para pendidik terbaik dari seluruh Indonesia.
Di panggung yang sama, Rendi Indiwara, guru SMKN 1 Kasongan, menyimpan kisah serupa. Dari ruang praktik sederhana di sekolah vokasi daerah, dedikasi dan inovasinya mengantarkan ia meraih predikat Terbaik 2 Dedikatif Guru SMK Tingkat Nasional. Dua nama, dua cerita, satu pesan: guru dari pelosok pun mampu bersinar di tingkat nasional.
Bagi Dina, penghargaan ini bukan sekadar trofi. Di sekolah yang berada jauh dari pusat kota, ia berjuang membangun budaya belajar yang adaptif. Keterbatasan fasilitas dan jarak tempuh siswa tidak mematahkan semangatnya. Melalui pemanfaatan teknologi dan kepemimpinan kolaboratif, ia mengajak guru dan murid berani bermimpi lebih tinggi.
“Penghargaan ini saya persembahkan untuk guru-guru dan murid-murid saya di Katingan Hulu. Mereka adalah sumber kekuatan saya,” ujar Dina dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itu, Rendi memilih jalur vokasi sebagai ladang pengabdiannya. Ia percaya, sekolah kejuruan harus menjadi jembatan nyata menuju dunia kerja. Dengan mendekatkan pembelajaran ke industri, membangun teaching factory, dan membekali siswa dengan sertifikat kompetensi, ia menyaksikan langsung perubahan kepercayaan diri murid-muridnya.
“Melihat siswa saya bisa bekerja setelah lulus adalah kebahagiaan terbesar sebagai guru,” kata Rendi.
Di balik kisah dua pendidik ini, terdapat perubahan besar dalam ekosistem pendidikan Kalimantan Tengah. Dukungan pemerintah provinsi melalui Dinas Pendidikan membuka ruang bagi guru-guru untuk berinovasi—mulai dari pelatihan berkelanjutan, digitalisasi pembelajaran, hingga penguatan kesejahteraan guru.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kalteng, Muhammad Reza Prabowo, menilai prestasi ini lahir dari keberanian guru untuk berubah dan dukungan kebijakan yang konsisten. “Kami ingin guru-guru Kalteng merasa tidak sendiri. Mereka harus tumbuh bersama sistem yang mendukung,” ujarnya.
Penghargaan Apresiasi GTK 2025 pun menjadi cermin bahwa perubahan pendidikan bukan hanya tentang program dan angka, melainkan tentang manusia—tentang guru-guru yang setia mengajar di pelosok, membangun harapan dari ruang kelas sederhana, dan membuktikan bahwa mimpi anak-anak daerah layak diperjuangkan.
Dari Katingan Hulu dan Kasongan, kisah Dina dan Rendi kini bergema hingga Jakarta. Sebuah pesan sederhana namun kuat: ketika dedikasi bertemu kesempatan, batas geografis bukan lagi penghalang untuk berprestasi. (din)






