INDOPOL MEDIA – PANGKALAN BUN — Suara deru mesin kendaraan terdengar silih berganti di empat SPBU dalam Kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).
Di bawah terik matahari, warga menunggu dengan sabar; sebagian membawa jeriken, sebagian lain hanya menghela napas panjang. Sudah tiga hari berturut-turut, antrean panjang kendaraan menjadi pemandangan yang tak lagi asing di kota ini.
Baik pengendara roda dua maupun roda empat harus rela mengantre berjam-jam demi mendapatkan bahan bakar minyak (BBM). Tak hanya jenis subsidi Pertalite, BBM nonsubsidi seperti Pertamax pun ikut langka.
“Aneh, mau beli Pertamax saja susah. Padahal bukan subsidi,” keluh Junaidi, warga Kelurahan Baru, Selasa (7/10/2025) pagi.
Pantauan di lapangan, antrean kendaraan tampak mengular di SPBU Jalan Diponegoro hingga ke area makam Skip.
Kondisi serupa terjadi di SPBU Bundaran Tudung Saji dan SPBU Paku Negara dua titik paling ramai di Pangkalan Bun. Sementara SPBU di Jalan Iskandar beberapa kali tampak tutup, membuat warga semakin resah.
Situasi ini memunculkan beragam spekulasi di tengah masyarakat. Ada yang menduga kelangkaan disebabkan oleh praktik pengetapan atau ulah pelangsir, sementara yang lain menilai pasokan BBM tidak sebanding dengan pertumbuhan kendaraan di wilayah Kotawaringin Barat yang meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat tidak tinggal diam. Melalui Asisten II Setda Kobar, Hasan Basri, dijelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Pertamina untuk mencari solusi atas keluhan warga.
“Kami secara regulasi memiliki fungsi koordinasi dalam hal distribusi BBM. Memang beberapa waktu lalu sempat ada kendala, tapi suplai sudah tiba di Pertamina Kumai dan diharapkan situasi segera normal,” ujarnya.
Sementara itu, Sales Branch Manager Kalimantan Tengah PT Pertamina Patra Niaga, Joseph Farel, membenarkan adanya gangguan distribusi BBM ke wilayah Kobar. Menurutnya, hambatan terjadi akibat faktor cuaca di perairan Kotabaru dan Banjarmasin yang menyebabkan kapal pengangkut BBM tertunda berlayar.
“Kapal seharusnya tiba tanggal 4 Oktober, namun tertunda karena kondisi cuaca buruk di jalur laut,” jelasnya.
Selain kendala cuaca, lonjakan konsumsi selama perayaan HUT ke-66 Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kobar Expo 2025 juga menjadi pemicu utama.
Ribuan pengunjung yang datang, termasuk saat penampilan penyanyi nasional Judika, membuat konsumsi BBM meningkat tajam.
“Biasanya kebutuhan harian sekitar 150 kiloliter, tapi dalam beberapa hari terakhir naik hingga 200 kiloliter,” ungkap Farel.
Untuk menstabilkan pasokan, Pertamina telah melakukan alih suplai dari Integrated Terminal Sampit sejak 1 Oktober 2025. Kapal pengangkut 1.500 kiloliter Pertamax telah tiba di Fuel Terminal Pangkalan Bun pada Senin (6/10/2025) siang dan langsung disalurkan ke sejumlah SPBU.
Sementara kapal kedua yang membawa 2.000 kiloliter Pertalite dijadwalkan tiba pada Selasa (8/10/2025).
“Kami menambah jam operasional terminal agar distribusi ke SPBU lebih maksimal. Masyarakat kami imbau tidak panik dan tidak melakukan pembelian berlebih,” tegas Farel.
Pemerintah Kabupaten Kobar berharap kondisi pasokan segera kembali normal dan antrean panjang tidak lagi terjadi.
“Kami akan terus memantau situasi di lapangan. Yang jelas, masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan,” tutup Hasan Basri. (YI)







