PALANGKA RAYA – Sejumlah dosen Biologi FMIPA dan mahasiswa Universitas Palangka Raya menggelar pengabdian kepada masyarakat yang berlokasi di Gedung Merah Putih B UPR, 10 Juni 2024.
Kegiatan ini diikuti oleh sebagian guru-guru Biologi SMA di Palangka Raya dan diharapkan setelah berakhirnya kegiatan dapat meningkatkan pengetahuan para guru tersebut tentang nyamuk.
Para dosen program studi Biologi yang diketuai oleh Fandi Tuju, S.Pd., M.Si., dan beranggotakan Rizka Hasanah, S.Pd., M.Si., Meyta Wulandari, S.Si., M.Sc., dan Rahayu Opi Anggoro, S.Si., M.Biotech., mengangkat tema “Peningkatan Pengetahuan Guru Biologi Terhadap Nyamuk (Pengenalan, Identifikasi, dan Pencegahan)”.
Kegiatan ini juga dibantu oleh beberapa mahasiswa Biologi yaitu Ranni Purwandani, Ayu, dan Putri Winenie.
Kegiatan ini didasari oleh meningkatnya kasus DBD di Kalimantan Tengah sesuai laporan Dinas Kesehatan yang bahkan menetapkan satu dari 14 kabupaten dan kota di Kalteng sebagai kejadian luar biasa DBD.
Peningkatan ini terjadi sejak Kalimantan Tengah khususnya Palangka Raya memasuki musim hujan. Hujan dengan intensitas yang cukup sering akan menimbulkan genangan air yang menjadi tempat nyamuk bertelur dan berkembang biak.
Berdasarkan pemaparan narasumber, Mirnawati Dewi, M.Si., nyamuk merupakan hewan dengan potensi tertinggi penyebab kematian pada manusia. Nyamuk tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berkembang biak, siklus hidupnya dari mulai telur sampai dewasa hanya membutuhkan waktu 12 hari.
“Oleh karena itu tidak mengherankan apabila populasinya banyak dan akan meledak saat musim hujan. Populasi yang banyak ini belum diikuti dengan cara pengendalian yang efektif dan efisien,” kata Mirnawati.
Jenis-jenis nyamuk yang berperan sebagai vektor yaitu genus Culex, Aedes, Armigeres, Anopheles, dan Mansonia. Tetapi hanya nyamuk betina yang dapat berperan sebagai vektor dikarenakan kemampuannya menghisap darah manusia atau hewan.
Darah yang dihisap tersebut akan digunakan sebagai nutrisi pada fase pematangan telur yang ada pada nyamuk betina. Untuk membedakan nyamuk betina dan nyamuk jantan dapat dilihat pada bagian antenanya, nyamuk jantan antenanya lebat sedangkan nyamuk betina tidak.
Sementara itu Ika Saktila, M.Pd., guru SMA N 5 Palangka Raya yang menjadi peserta dalam kegiatan tersebut mengatakan, pengetahuan tentang nyamuk ini sangat berguna bagi masyarakat terutama kami sebagai pendidik yang nantinya dapat meneruskan informasi ini kepada generasi penerus yang ada di Kalimantan Tengah terutama Palangka Raya.
“Dalam ranah kami adalah siswa. Selama ini kami pikir semua nyamuk sama saja dan intinya mengganggu tetapi karena kegiatan ini kami jadi tahu kalau ada jenis nyamuk Toxorhynchites atau nyamuk gajah yang dapat memangsa nyamuk lainnya dan tidak bersifat vektor,” tutur Ika.
Dalam kegiatan ini juga disampaikan beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai pengendalian nyamuk di antaranya adalah dengan penggunaan lilin aroma terapi yang mengandung wangi untuk menjauhkan nyamuk sehingga tidak terjadi gigitan.
Febri Nur Ngazizah, S.Pd., M.Si., sebagai salah satu narasumber, juga mengajarkan pembuatan lilin aroma terapi ini sehingga para peserta dapat mempraktekkannya di kemudian hari baik untuk dirinya sendiri maupun untuk diajarkan kembali kepada para siswanya di sekolah.
Selain itu, Bu Febri juga mengajarkan cara pembuatan ovitrap atau perangkap untuk tempat nyamuk bertelur yang pada bagian atasnya diberi kasa sehingga setelah telur menjadi nyamuk dewasa akan terperangkap dan tidak bisa terbang. (Rls)