INDOPOL MEDIA, Muara Teweh – Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Utara menggelar Monitoring dan Evaluasi Program Tuberkulosis (TBC) Tahun 2025 sebagai langkah memperkuat upaya penanggulangan dan eliminasi penyakit menular mematikan tersebut. Kegiatan berlangsung dua hari di Aula Dinkes Barito Utara.
Pertemuan ini melibatkan jajaran internal Dinkes, perwakilan Puskesmas, serta RSUD se-Barito Utara, guna mengevaluasi capaian program sekaligus mengidentifikasi kendala di lapangan.
Kepala Bidang PSDK Dinkes Barito Utara, Yessi Aria Puspita, mengungkapkan bahwa Indonesia masih menjadi negara dengan kasus TBC terbanyak kedua di dunia. “Setiap jam, 14 orang meninggal akibat TBC. Ini ancaman serius yang harus ditangani bersama,” tegasnya.
Ia menjelaskan, target nasional eliminasi TBC menuntut 90 persen deteksi kasus, 100 persen inisiasi pengobatan, serta keberhasilan terapi di atas 80 persen. Untuk mencapai target tersebut, sinergi fasilitas kesehatan, masyarakat, dan komunitas dinilai mutlak diperlukan.
Di Barito Utara sendiri, sepanjang 2025 tercatat 227 kasus TBC yang telah ditemukan dan menjalani pengobatan. Namun, masih ditemukan tantangan seperti belum optimalnya investigasi kontak, rendahnya cakupan Terapi Pencegahan TBC (TPT), serta keterlambatan pencatatan dan pelaporan.
“Masih ada kesenjangan antara temuan kasus dan pasien yang memulai pengobatan. Monev ini penting untuk memetakan masalah dan merumuskan solusi konkret di Puskesmas dan RSUD,” jelas Yessi.
Dinkes Barito Utara berharap pertemuan ini mampu memperkuat kualitas data, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap TPT, serta mempercepat langkah daerah menuju target eliminasi TBC secara berkelanjutan.






